Trump bisa saja memenangkan perang dagang dengan China, tetapi dengan hampir sepertiga ekonomi Israel yang berasal dari ekspor, Israel bisa jadi korban perang dagang presiden AS. Itu bukan tindakan yang menyenangkan, tapi merupakan serangan atas kepentingan Israel.

 


Oleh: David Rosenberg (Haaretz)

Daftar statistik yang setengah keliru, berlebihan dan distorsi yang digunakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam kaitannya dengan perdagangan internasional tersaji sangat panjang.

Daftar tersebut termasuk komentar seperti “Negara kita dalam masalah serius. Kita tak lagi menang. Kita tak mengalahkan China dalam perdagangan. Kita tidak mengalahkan Jepang.” (Dalam pengumuman pencalonan Juni 2015). Atau “Dunia mengambil keuntungan dari Amerika Serikat dan itu mendorong kita menjadi negara dunia ketiga.” Atau “Kita memiliki Defisit Perdagangan dengan Kanada.”

Pernyataan pertama mengasumsikan bahwa negara-negara dunia “mengalahkan” satu sama lain dalam perdagangan internasional, seolah-olah itu adalah permainan zero-sum di mana surplus perdagangan semua negara memberi mereka satu poin dan setiap defisit membuat mereka kehilangan satu poin.

Yang kedua adalah tipikal dari jenis hiperbola, di mana Trump secara rutin terlibat, di mana semua orang dan semua hal yang dia tidak setujui adalah “pecundang” atau “yang terburuk yang pernah terjadi.”


read more : Korbankan Teman: Bagaimana Israel Bisa Jadi Korban Perang Dagang Trump