Para pengunjuk rasa di wilayah Papua di Indonesia membakar gedung pada hari Kamis dan memaksa perusahaan listrik untuk memutus listrik di kota Jayapura.

Peristiwa hari itu berlanjut hampir dua minggu kerusuhan di Papua. Demonstrasi dimulai setelah video pasukan keamanan memanggil siswa Papua "monyet" dan "anjing" muncul di internet.

Selain memprotes komentar tersebut, beberapa demonstran menyerukan kemerdekaan bagi Papua. Wilayah ini merupakan bekas koloni Belanda di bagian barat Papua Nugini. Ini menjadi bagian dari Indonesia pada 1969 tetapi secara etnis dan budaya berbeda dari sebagian besar negara lain. Sebuah gerakan separatis telah lama aktif di daerah tersebut.

Tapi kepala keamanan Indonesia mengatakan minggu ini bahwa negara itu tidak akan mengadakan pemungutan suara atas kemerdekaan Papua.

Sebuah pernyataan oleh kepala keamanan Wiranto-yang hanya menggunakan satu nama-muncul di situs web Berita Kompas.com. Dia dilaporkan berkata, "tuntutan referendum, saya pikir, tidak di tempat. Tuntutan referendum saya pikir tidak harus disebutkan. Mengapa? Karena persatuan Republik Indonesia adalah mutlak. "

 



Kantor berita negara mengatakan polisi menggunakan gas air mata terhadap demonstran yang membakar mobil dan melemparkan batu di toko dan kantor. Para demonstran juga telah membakar kantor Parlemen setempat. Dan perusahaan energi negara telah menutup beberapa pompa bensin karena protes Papua.

Seorang juru bicara militer Nasional mengatakan lebih dari 1.000 orang telah mengambil bagian dalam protes. Setidaknya satu tentara Indonesia dan dua warga sipil telah tewas di bentrokan.